Medan – Kepedulian terhadap lingkungan menjadi salah satu hal yang mendorong Sakdan, mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Sumatera Utara (USU), untuk mengembangkan gagasan inovatif dalam mengatasi permasalahan lingkungan. Melalui karya tulis mengenai biochar, Sakdan mengangkat potensi pengolahan sampah organik menjadi solusi untuk membantu mengurangi karbon di lingkungan.
Biochar merupakan material menyerupai arang yang dihasilkan melalui proses pemanasan bahan organik dengan oksigen yang sangat terbatas. Sakdan mengembangkan gagasan pemanfaatan sisa makanan sebagai bahan baku biochar. Inovasi ini dirancang untuk ditempatkan di sekitar pembatas jalan yang ditanami pohon, sehingga berpotensi membantu menyuburkan tanah sekaligus menyerap karbon dari lingkungan sekitar.
Gagasan tersebut berangkat dari pemikirannya mengenai perubahan iklim dan meningkatnya karbon di lingkungan, termasuk yang dihasilkan oleh kendaraan. Sakdan melihat bahwa sampah organik tidak hanya menjadi persoalan yang perlu ditangani, tetapi juga berpotensi dimanfaatkan menjadi sesuatu yang memiliki nilai guna bagi lingkungan.
Namun, pengembangan biochar tersebut masih menghadapi kendala. Sakdan menjelaskan bahwa proses pembuatannya membutuhkan teknik pirolisis, yaitu pemanasan bahan dengan oksigen yang sangat terbatas. Selain membutuhkan alat yang relatif mahal, proses tersebut juga memiliki tantangan teknis yang tidak mudah diatasi. Karena keterbatasan fasilitas, gagasan biochar yang dikembangkannya untuk karya tulis belum dapat diwujudkan menjadi produk nyata.
Meski demikian, gagasan tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan Sakdan sebagai mahasiswa. Melalui karya tulis tentang biochar, ia berhasil meraih predikat Mahasiswa Berprestasi I FKM USU, Mahasiswa Berprestasi II USU, dan Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Berprestasi II pada tingkat nasional. Pencapaian ini menunjukkan bagaimana isu lingkungan dapat menjadi dasar pengembangan gagasan yang berorientasi pada pemecahan masalah di masyarakat.
Selain mengembangkan gagasan biochar, Sakdan juga pernah terlibat dalam penelitian bersama dosen mengenai larvasida alami berbahan biji jarak dan biji cabai. Penelitian tersebut dikembangkan sebagai alternatif terhadap larvasida berbahan kimia yang digunakan untuk mengendalikan jentik nyamuk dan telah melalui pengujian laboratorium. Hasil penelitian itu kemudian menjadi bagian dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui edukasi lingkungan di wilayah Deli Tua.
Berbagai pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa kepedulian Sakdan terhadap lingkungan tidak berhenti pada gagasan, tetapi juga diwujudkan melalui penelitian, organisasi, dan kegiatan pengabdian masyarakat. Baginya, lingkungan menjadi bidang yang ingin terus ia dalami, sejalan dengan peminatannya di bidang kesehatan lingkungan.
Melalui gagasan biochar dan keterlibatannya dalam berbagai kegiatan lingkungan, Sakdan menunjukkan bahwa mahasiswa dapat mengambil peran dalam mencari solusi atas persoalan yang terjadi di masyarakat. Meskipun inovasi biochar yang dirancangnya masih menghadapi keterbatasan teknis, gagasan tersebut menjadi salah satu langkah untuk melihat sampah organik bukan sekadar limbah, melainkan sumber daya yang berpotensi dimanfaatkan bagi keberlanjutan lingkungan. (*)





























