MEDAN – Suasana Seminar Nasional Algoritma Bernegara yang digelar di Universitas Negeri Medan (Unimed) pada Jumat, 23 Oktober 2026, diwarnai perdebatan sengit antara anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), Rocky Gerung, dengan Presiden Mahasiswa (Presma) Unimed, Muhammad Adikani.
Perselisihan bermula saat mahasiswa tersebut hendak mengajukan pertanyaan kepada Rocky Gerung. Sebelum melontarkan pertanyaannya, ia sempat menggunakan kata “izin” sebagai bentuk penghormatan. Rocky Gerung langsung memotong pembicaraan tersebut dan mempersoalkan penggunaan diksi izin yang dianggap tidak relevan dalam ruang diskusi akademis.
Rocky menegaskan bahwa di dalam forum demokrasi, hak berbicara adalah hak dasar setiap individu, sehingga tidak perlu meminta izin. Ia menolak memberikan izin kepada mahasiswa tersebut bukan karena ingin membungkam, melainkan sebagai bentuk protes terhadap mentalitas yang ia sebut sebagai “mental budak”. Menurutnya, kampus merupakan mimbar kebebasan akademik yang tidak boleh dikotori oleh budaya feodal atau perilaku yang memerlukan formalitas berlebihan untuk sekadar bertanya.
Di sisi lain, mahasiswa tersebut mencoba menjelaskan bahwa penggunaan kata izin adalah bentuk kesopanan dan penghargaan kepada narasumber. Namun, Rocky tetap berpendapat bahwa dalam dunia pikiran dan nalar kritis, sopan santun tidak boleh menghalangi kebebasan seseorang untuk bertanya atau mengkritik. Ia mendorong para mahasiswa untuk berani bicara secara langsung tanpa rasa takut atau merasa perlu mendapatkan persetujuan otoritas tertentu.
Perdebatan ini menarik perhatian peserta seminar, mengingat Rocky Gerung hadir dalam kapasitasnya sebagai Wantimpres untuk memaparkan pandangannya mengenai algoritma bernegara. Kejadian tersebut kemudian memicu diskusi lebih lanjut di kalangan peserta mengenai batasan etika berkomunikasi dalam forum kebebasan intelektual. (*)





























