BARANEWS | Salman Al Farici merupakan seorang pemuda asal Rantau Parapat, yang kini usai menimba ilmu pada tahap perguruan tinggi lewat Program Studi Antropologi Sosial di Universitas Sumatera Utara (USU). Selama masa studinya, ia tidak hanya bersinar di ruang-ruang kelas, tetapi juga keluar dan berkecimpung di banyak hal, termasuk kegiatan sukarelawan.
Jika ditanya Salman ingin dikenal sebagai pribadi seperti apa, ia dengan tegas menyatakan bahwa pendidikan masih menjadi nilai teguh yang dibawanya ke ruang mana pun dalam hidupnya. Dari pendidikan pula, ia berangkat menjadi relawan di komunitas Kawan Bestari. Merupakan pengalaman yang paling berkesan dalam hidupnya, karena dari sinilah pandangannya terbuka lebih luas.
Sebagai Staf Desainer Kurikulum di Kawan Bestari, ia bertugas untuk merancang semua kurikulum yang akan diimplementasikan dengan pendekatan anak-anak di tempat realisasi. Lewat masa kecilnya di pre-school, ia mengadaptasi dan memodifikasi bentuk kurikulum dari sekolah tersebut, lalu mengaitkannya dengan antropobiologi— bagian yang ia pernah pelajari dari keilmuan Antropologi Sosial. Setelah proses desain yang panjang dan sarat diskusi, Salman dan tim membawa kurikulum tersebut untuk diterapkan selama lima hari di Muara Angke.

Kawan Bestari membawa Salman menyusuri Muara Angke, suatu daerah di tepi Jakarta yang jauh dari megahnya kota. Kehadiran Salman dan Kawan Bestari disambut hangat, terkhususnya saat dikatakan bahwa asal Salman dan rekannya dari Medan. Seperti biasa, siapa pun yang dari Medan dianggap pribadi yang “galak”—tentu anak-anak hanya bercanda. Namun, candaan itu tidak seceria realitas pendidikan yang terlihat. Anak-anak masih jauh dari pendidikan, ada yang tidak bisa membaca, menulis, dan berhitung (calistung), bahkan juga tidak mengenal huruf sama sekali.
Dalam lima hari yang singkat, anak-anak diajarkan calistung, diajak menjadi kreatif lewat mewarnai dan bernyanyi, dan dilatih kemampuan sensoriknya. Selain itu, Salman dan tim juga berbaur serta tinggal bersama warga setempat selama kegiatan sukarelawan berlangsung.
Tak berhenti di Muara Angke, Salman sempat mengikuti kegiatan sukarelawan di salah satu panti asuhan sekaligus rumah belajar di Kota Medan. Masalah pendidikan terlihat dengan gamblang: anak-anak bahkan belum bisa mengunyah. Anak-anak yang sudah berumur 6-8 tahun di tempat tersebut pun terbiasa mengonsumsi makanan yang dicampur dengan air, sebab kemampuan sensoriknya tidak lagi terlatih sejak bayi.
Salman menyadari bahwa pendidikan masih membutuhkan atensi besar, bukan hanya di Jakarta, melainkan juga di Medan, tempat ia beraktivitas sehari-hari. Oleh karenanya, ia memiliki satu alasan besar untuk terus terjun menjadi sukarelawan.
“Alasannya adalah karena aku ingin melihat dunia yang lebih luas,” tutupnya.





























