Samosir Baranewssumut.com
Menjalankan tugas sebagai anggota kepolisian membutuhkan ketegasan, kedisiplinan, dan keberanian dalam menegakkan aturan. Namun, di balik tanggung jawab tersebut, terdapat nilai lain yang tidak kalah penting, yakni kepedulian terhadap sesama. Prinsip inilah yang berusaha diwujudkan Aipda Saut H. Siahaan, Kepala Satuan Tahanan dan Barang Bukti (Kasat Tahti) Polres Samosir, dalam menjalankan tugas sehari-hari. Ia berupaya menunjukkan bahwa kewenangan yang dimiliki seorang polisi harus digunakan secara bertanggung jawab, dengan tetap menghormati martabat setiap manusia.
Bagi Aipda Saut, tugas mengawasi dan menjaga para tahanan bukan hanya berkaitan dengan keamanan di dalam ruang tahanan. Tanggung jawab tersebut juga menuntut kemampuan membangun komunikasi, menjaga ketertiban, serta memastikan para tahanan mendapatkan perlakuan yang layak sesuai ketentuan hukum. Ia memahami bahwa orang-orang yang sedang menjalani proses hukum tetap memiliki hak dasar yang harus dihormati. Oleh sebab itu, pendekatan yang tegas perlu berjalan seiring dengan sikap yang santun, bijaksana, dan tidak mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan.
Nilai pengabdian yang dijalaninya saat ini tidak terbentuk dalam waktu singkat. Sejak memulai karier sebagai anggota Polri pada 2006, Aipda Saut telah melewati perjalanan panjang dalam menjalankan tanggung jawab profesinya. Jauh sebelumnya, ia telah mengenal kehidupan kepolisian melalui sang ayah, yang juga merupakan anggota Polri. Ia tumbuh bersama keluarganya di Aspol Kerupuk Polres Nias, Kota Gunungsitoli. Lingkungan tersebut memberinya kesempatan untuk menyaksikan secara langsung kehidupan seorang polisi, termasuk pentingnya menjaga kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab dalam bekerja.
Keteladanan sang ayah menjadi salah satu fondasi yang membentuk karakter Aipda Saut. Ia belajar bahwa kehormatan seseorang tidak hanya ditentukan oleh jabatan yang disandang, tetapi juga oleh cara menjalankan amanah. Prinsip tersebut terus dibawanya dalam kehidupan pribadi maupun kedinasan. Ia meyakini bahwa penghasilan yang diperoleh melalui jalan yang benar merupakan rezeki yang membawa ketenangan dan keberkahan. Baginya, menjaga integritas merupakan bagian penting dari pengabdian, terlebih ketika tugas yang dijalankan berkaitan dengan kewenangan dan kepercayaan masyarakat.
Selain menjadikan kejujuran sebagai pegangan, Aipda Saut juga berusaha menerapkan nilai-nilai keagamaan melalui tindakan nyata. Kepeduliannya diwujudkan dengan membantu kegiatan gereja, memberikan dukungan terhadap kegiatan sosial, serta menolong sesama sesuai kemampuan yang dimiliki. Ia tidak memandang kebaikan sebagai sesuatu yang hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang berkecukupan. Sebaliknya, ia percaya bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk berbagi melalui tindakan sederhana. Kesediaan untuk membantu, menurut prinsip hidupnya, merupakan bentuk tanggung jawab moral yang patut dipelihara.
Semangat tersebut turut tercermin dalam caranya membangun hubungan dengan para tahanan di Polres Samosir. Aipda Saut membiasakan kegiatan Coffee Morning sebagai sarana untuk berdiskusi, bertukar pikiran, dan memberikan motivasi. Melalui percakapan yang berlangsung dalam suasana lebih santai, ia berusaha menumbuhkan semangat serta mengajak para tahanan memanfaatkan waktu yang dijalani untuk merenungkan kehidupan mereka. Kepedulian itu juga diwujudkan melalui perhatian sederhana, seperti meminta istrinya menyiapkan bubur, kolak, atau makanan ringan untuk dibagikan kepada para tahanan. Baginya, perhatian kecil dapat menjadi jembatan untuk membangun hubungan yang lebih baik dan menunjukkan bahwa rasa kemanusiaan tetap harus dijaga.
Dalam menjalankan tugasnya, Aipda Saut tidak menyukai tindakan intimidasi maupun perlakuan yang merendahkan martabat seseorang. Apabila mendapati perilaku yang bertentangan dengan prinsip perlakuan manusiawi, ia berupaya memberikan teguran sebagai bentuk pengingat bahwa setiap tindakan aparat harus tetap berada dalam koridor hukum. Keamanan dan ketertiban ruang tahanan memang harus dijaga, tetapi pelaksanaannya tidak boleh menghilangkan penghormatan terhadap hak-hak dasar para tahanan. Pendekatan tersebut menggambarkan pentingnya profesionalisme dalam institusi kepolisian, yakni mampu bersikap tegas terhadap pelanggaran tanpa memperlakukan manusia secara semena-mena.
“Jangan pernah menahan kebaikan jika engkau mampu melakukannya. Sebab, ketika engkau mampu berbuat baik tetapi memilih untuk tidak melakukannya, ada tanggung jawab moral yang harus dipertanyakan.” Pesan tersebut menggambarkan keyakinan yang berusaha diterapkan Aipda Saut H. Siahaan dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai bentuk kepeduliannya membuat ia memperoleh apresiasi dari orang-orang yang mengenal cara pengabdiannya. Ia bahkan dinilai sebagai salah satu Kasat Tahti yang patut menjadi teladan di Indonesia, meskipun penilaian tersebut merupakan bentuk apresiasi dan bukan peringkat resmi nasional. Kisahnya menjadi pengingat bahwa wajah kepolisian yang profesional tidak hanya ditampilkan melalui ketegasan dalam menegakkan hukum, tetapi juga melalui integritas, kepedulian, dan kemampuan memperlakukan setiap manusia dengan hormat.
(Harianto Siahaan)





























