RANTAU PRAPAT – Sebuah kendaraan pengangkut tahanan yang membawa 13 narapidana kasus narkoba mengalami kecelakaan tunggal hingga terguling ke dalam parit yang dipenuhi semak belukar di kawasan Rantau Prapat.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, insiden tersebut terjadi di ruas jalan yang dikelilingi perkebunan sawit pada Selasa, 14 Oktober 2026. Kendaraan berwarna gelap yang diduga merupakan minibus tahanan terlihat terbalik di dasar parit yang cukup dalam di bawah bahu jalan.
Peristiwa itu sontak menarik perhatian warga. Sejumlah besar warga berkumpul di atas tanggul jalan sambil merekam kejadian dengan telepon genggam. Di tengah kerumunan, terlihat beberapa pria mengenakan kaus seragam berwarna oranye terang, yang merupakan pakaian tahanan, sedang dievakuasi menaiki tebing curam yang dipenuhi tanaman merambat dengan pengawalan ketat petugas kepolisian.
Proses evakuasi berlangsung tegang dan penuh kehati-hatian. Para tahanan digiring satu per satu melewati vegetasi tebal menuju badan jalan. Sementara itu, arus lalu lintas di lokasi sempat terganggu. Terlihat sebuah truk kargo besar berwarna oranye dan sejumlah sepeda motor berhenti di tepi jalan akibat kecelakaan tersebut.
Insiden tergulingnya mobil tahanan yang mengangkut belasan napi narkoba ini patut menjadi kritik keras terhadap standar keamanan transportasi tahanan di Indonesia. Bagaimana mungkin sebuah kendaraan yang membawa 13 narapidana berisiko tinggi bisa sampai tergelincir ke dalam parit tanpa pengawalan dan prosedur keselamatan yang memadai.
Peristiwa ini bukan sekadar kecelakaan lalu lintas biasa. Ini adalah soal pertaruhan nyawa, baik bagi para tahanan itu sendiri, petugas pengawal, maupun masyarakat pengguna jalan. Jika kendaraan tahanan tidak laik jalan atau pengemudi tidak dibekali dengan kemampuan menguasai medan di jalur rawan seperti di Rantau Prapat, maka potensi pelarian massal hingga jatuhnya korban jiwa sangat besar.
Aparat terkait harus melakukan evaluasi total terhadap kelayakan armada pengangkut tahanan, terutama untuk kasus-kasus narkoba dengan risiko tinggi. Jangan sampai insiden yang beruntung tidak menelan korban jiwa ini kembali terulang dengan dampak yang jauh lebih fatal. (*)





























