KARO | Kasus keracunan massal yang melanda pelajar di Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, akibat konsumsi makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada 13 Agustus 2026, menimbulkan keresahan luas dan pengawasan ketat terhadap sistem jaminan pangan sekolah. Data resmi menyebut insiden ini telah berdampak pada sedikitnya 279 hingga 361 siswa dari sejumlah sekolah, termasuk SMAN 1 Berastagi dan SMK Swasta Bersama.
Penyebab keracunan mulai terang setelah hasil uji mikrobiologi UPTD Laboratorium Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara diumumkan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) di DPRD Karo pada 7 September 2026. Sampel makanan yang dihidangkan terbukti mengandung tiga bakteri patogen: Bacillus cereus pada nasi, Staphylococcus aureus pada ikan dencis saus serta pada sampel muntah seorang siswa, serta Escherichia coli (E. coli) pada buah melon.
Pakar medis dr. Ferry Kusmalingga lewat unggahannya menegaskan bahaya kombinasi bakteri tersebut, khususnya terhadap sistem saraf dan ginjal anak-anak. Menurut Ferry, Staphylococcus aureus dapat menyebar melalui tangan atau kulit penjamah makanan dan berkembang biak ketika makanan dibiarkan dalam suhu ruang yang tidak sesuai standar. Lebih jauh, bakteri ini memproduksi enterotoksin tahan panas yang bertahan meskipun makanan telah dipanaskan ulang, sehingga tetap memicu muntah hebat, mual, kram perut, hingga diare massal.
Ditemukannya Bacillus cereus pada nasi juga menjadi alarm bagi pengelolaan makanan massal. Bacillus cereus, jelas Ferry, kerap tumbuh pada makanan skala besar yang tidak segera dikonsumsi dan terpapar suhu ruang terlalu lama, menyebabkan potensi racun yang mengancam kesehatan.
Namun, sorotan utama tertuju pada temuan E. coli di buah melon yang dikonsumsi siswa. Ferry menjelaskan, beberapa strain E. coli, terutama Shiga toxin-producing E. coli (STEC), berpotensi menyebabkan komplikasi berat seperti sindrom uremik hemolitik (Hemolytic Uremic Syndrome/HUS), yang menyebabkan sel darah rusak, trombosit menurun drastis, dan cedera ginjal akut. “Ini selaras dengan laporan adanya keluhan gagal ginjal dari korban. E. coli menjadi bahaya laten di balik kasus MBG Karo,” tambahnya.
Lebih lanjut, dr. Ferry menilai gejala gagal ginjal akut dan kelumpuhan saraf otak, termasuk dugaan amnesia yang menimpa sebagian korban, sangat mungkin dipicu oleh racun dari bakteri tersebut. Selain infeksi langsung, dehidrasi parah akibat muntah dan diare berkepanjangan turut memperberat kondisi siswa hingga berujung pada komplikasi saraf dan ginjal.
Meningkatnya temuan pelanggaran keamanan pangan di sekolah menambah daftar kegagalan pengawasan pemerintah daerah dan pelaksana MBG. Sampai kini, masyarakat dan pihak legislatif mendesak agar seluruh biaya pemulihan kesehatan siswa ditanggung dan investigasi dilanjutkan secara transparan. Kasus ini menegaskan bahwa kelalaian sekecil apapun dalam rantai distribusi pangan bisa menjadi ancaman besar bagi keselamatan generasi muda. (*)





























