TANJUNG MORAWA – Aksi penembakan brutal oleh orang tak dikenal kembali merenggut nyawa warga di Kabupaten Deli Serdang. Korban adalah Doni, 40 tahun, yang akrab disapa Doni Pa’cek, Wakil Komandan KOTI Majelis Pimpinan Cabang Pemuda Pancasila Kabupaten Deli Serdang. Peristiwa berdarah itu mengoyak rasa aman publik dan meninggalkan duka mendalam bagi keluarga yang kini kehilangan tulang punggung.
Berdasarkan keterangan keluarga dan organisasi, korban tewas di tempat setelah dihantam timah panas yang bersarang tepat di leher bagian kiri. Peristiwa itu terjadi di wilayah Kelurahan Tanjung Morawa Pekan, Kecamatan Tanjung Morawa, pada Minggu malam, 18 Oktober 2026. Warga yang menemukan korban dalam kondisi bersimbah darah sempat melarikan korban ke Rumah Sakit Umum Mitra Sehat untuk mendapatkan pertolongan darurat, namun nyawa korban tidak tertolong.
Kepergian Doni menyisakan luka mendalam. Istrinya, Naya Agustin, 28 tahun, tampak lemas tak berdaya di pelataran Rumah Sakit Bhayangkara TK II Medan saat menanti proses autopsi jenazah suaminya. Dengan mukena merah muda dan mata memerah menahan tangis, ia menuntut keadilan ditegakkan tanpa kompromi. Menurutnya, suaminya adalah sosok pekerja keras yang setiap hari bekerja sebagai pengawas di salah satu minimarket di Deli Serdang dan menjadi satu-satunya tulang punggung bagi istri dan satu orang anaknya.
“Semoga bisa diusut tuntas. Pelaku dapat hukuman setimpal dengan apa yang diperbuat kepada suami saya. Tuhan Mahatahu, pasti keadilan berpihak pada kami,” kata Naya.
Kehilangan tersebut juga menjadi pukulan telak bagi Pemuda Pancasila. Ketua MPC Pemuda Pancasila Deli Serdang, Junaidi, menegaskan bahwa Doni merupakan salah satu kader terbaik, militan, dan dermawan yang aktif berkontribusi memajukan organisasi. Ia ditemui di depan kamar jenazah Rumah Sakit Bhayangkara Medan pada Senin, 19 Oktober 2026, saat proses autopsi masih berlangsung.
“Bagi kami ini kehilangan besar. Doni adalah kader militan yang banyak berkontribusi. Dia orang baik, sangat aktif di setiap kegiatan. Bahkan untuk peringatan HUT PP mendatang, dia juga banyak membantu,” ujar Junaidi.
Jenazah korban kemudian diboyong ke Rumah Sakit Bhayangkara Medan pada dini hari Senin, 19 Oktober 2026 untuk keperluan autopsi guna kepentingan penyelidikan.
Hingga kini, aparat kepolisian masih melakukan penyelidikan intensif dan olah tempat kejadian perkara untuk memburu pelaku serta mengungkap motif di balik penembakan tersebut. Namun publik patut mempertanyakan, bagaimana senjata api bisa dengan mudah digunakan di ruang publik untuk menghabisi nyawa seseorang? Brutalitas ini tidak bisa dianggap sebagai kriminalitas biasa. Ini adalah alarm keras bagi lemahnya pengawasan peredaran senjata api ilegal dan cerminan dari rasa aman warga yang kian tergerus.
Jika kasus penembakan yang merenggut nyawa seorang tokoh ormas yang dikenal luas saja belum mampu diungkap secara cepat dan transparan, maka kepercayaan publik terhadap penegakan hukum akan terus terkikis. Keluarga korban tidak butuh janji, mereka butuh tindakan nyata, pelaku ditangkap dan dihukum setimpal sesuai perbuatannya.





























