Medan Baranewssumut.com
Tim Rumah Aspirasi Kombes Pol. (Purn.) Dr. Maruli Siahaan, S.H., M.H., Anggota DPR RI Komisi XIII Fraksi Golkar, bergerak cepat merespons keluhan masyarakat terkait kendala pelayanan kesehatan yang dialami Riris Irawati boru Sibuea, warga Pematangsiantar. Riris sebelumnya menjalani perawatan di RS Murni Teguh Medan dan membutuhkan penanganan medis lanjutan setelah menjalani operasi batu empedu. Respons tersebut menjadi bentuk kepedulian Rumah Aspirasi terhadap masyarakat yang membutuhkan pendampingan ketika menghadapi kendala dalam memperoleh layanan kesehatan.
Riris diketahui menjalani operasi batu empedu pada 31 Juli 2026. Namun, dalam proses operasi, tim medis menemukan adanya perlengketan antara usus dengan kantong empedu sehingga tindakan operasi tidak dapat dilanjutkan sebagaimana rencana awal. Kondisi tersebut membuat pasien kemudian diarahkan untuk menjalani tindakan medis lanjutan berupa pemasangan Endoscopic Retrograde Cholangiopancreatography (ERCP) dan stent. Penanganan lanjutan itu diperlukan sebagai bagian dari upaya medis terhadap kondisi yang dialami pasien.
Dalam proses menunggu penanganan berikutnya, pihak keluarga mengaku beberapa kali mengalami kendala dalam mendapatkan ruang perawatan. Situasi tersebut membuat keluarga berupaya mencari bantuan agar Riris dapat memperoleh penanganan sesuai kebutuhan medisnya. Keluhan kemudian disampaikan melalui Antoni Jackson Siahaan hingga akhirnya diteruskan kepada Kombes Pol. (Purn.) Dr. Maruli Siahaan. Aspirasi tersebut langsung mendapat perhatian dan ditindaklanjuti melalui tim Rumah Aspirasi.
Menindaklanjuti laporan tersebut, Maruli Siahaan langsung memerintahkan jajarannya untuk melakukan koordinasi dengan pihak rumah sakit. Pada 24 Agustus 2026, Martinus Sirait bersama Tim Rumah Aspirasi bergerak melakukan komunikasi dan koordinasi dengan pihak RS Murni Teguh Medan. Langkah tersebut dilakukan untuk membantu mencari solusi atas kendala yang dihadapi keluarga, khususnya terkait kebutuhan ruang perawatan serta kelanjutan proses pengobatan Riris.
Upaya koordinasi tersebut kemudian membuahkan hasil. Dua hari setelah koordinasi dilakukan, tepatnya pada 26 Agustus 2026, Riris akhirnya mendapatkan ruang perawatan dan dapat menjalani tindakan medis lanjutan yang dibutuhkan. Tim Rumah Aspirasi turut memastikan proses tersebut dapat berjalan dengan baik melalui komunikasi bersama pihak terkait. Kehadiran tim di tengah persoalan yang dihadapi keluarga menjadi bagian dari upaya memastikan aspirasi masyarakat tidak berhenti sebatas laporan, tetapi mendapat tindak lanjut nyata.
Setelah mendapatkan penanganan lanjutan, kondisi Riris dilaporkan mulai membaik. Rasa sakit yang sebelumnya dirasakan juga disebut telah berkurang. Atas bantuan dan perhatian yang diberikan, Riris menyampaikan apresiasi serta ucapan terima kasih kepada Maruli Siahaan dan seluruh Tim Rumah Aspirasi yang telah membantu mengawal persoalan yang dihadapinya. Bagi keluarga, pendampingan tersebut memberikan harapan sekaligus membantu mereka melewati situasi sulit ketika membutuhkan akses terhadap pelayanan kesehatan.
Martinus Sirait mengatakan bahwa Maruli Siahaan selalu memberikan pesan kepada seluruh Tenaga Ahli, Staf Administrasi, maupun anggota Rumah Aspirasi agar tidak pasif dalam menerima pengaduan masyarakat. Setiap keluhan, menurutnya, harus dilihat sebagai aspirasi yang perlu dicarikan jalan keluar sesuai kewenangan dan kemampuan yang dimiliki. “Bapak Maruli selalu meminta kami membantu masyarakat dengan cepat dan ikhlas. Jangan hanya menerima aspirasi, tetapi sebisa mungkin ikut mencari jalan keluarnya,” ujar Martinus.
Maruli Siahaan menegaskan bahwa keberadaan Rumah Aspirasi harus benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Menurutnya, masyarakat yang menyampaikan persoalan membutuhkan kehadiran wakil rakyat yang mampu mendengarkan, merespons, dan berupaya membantu mencarikan solusi. Penanganan terhadap persoalan Riris menjadi salah satu bentuk komitmen tersebut, sekaligus menunjukkan bahwa Rumah Aspirasi tidak hanya menjadi tempat menampung keluhan, tetapi juga berupaya hadir ketika masyarakat membutuhkan bantuan.
(Harianto Siahaan)





























