Oleh: Mahra Lazuardi Harahap
MEDAN — Tiga dekade berkecimpung di dunia jurnalistik bukanlah waktu yang singkat bagi Aswani Hafit. Mantan wartawan harian cetak Medan Pos yang kini aktif di media siber membaranews.com tersebut telah melintasi berbagai dinamika industri pers—mulai dari intimidasi fisik hingga penghargaan profesional.
Pria berusia 54 tahun ini mengawali kisah panjangnya dari keberanian membela hak-hak pekerja. Lewat karya jurnalistiknya, Aswani pernah gencar memuat pemberitaan terkait penahanan ijazah dan pengabaian upah minimum di sebuah perusahaan valet.
Risikonya tak main-main; ia harus berhadapan langsung dengan intimidasi dari oknum wakil rakyat hingga aparat penegak hukum.
Namun, di balik kerasnya tekanan di lapangan, profesi jurnalis tetap menjadi sandaran hidup yang manis baginya.
Dari dedikasi ini pula, Aswani mampu menafkahi keluarga serta mengantarkan anak-anaknya menatap masa depan.
Salah satu momen paling berkesan dalam rekam jejak karirnya terjadi saat ia terpilih meliput perjalanan api Pekan Olahraga Nasional (PON) di Sumatera Utara.
”Saat peliputan itu saya merasa sangat bangga dan dihormati, karena bisa meliput dan berteku langsung dengan gubernur dan para kepala daerah di Sumatera Utara serta,” kenang Aswani.
Kini pada tahun 2026, perjalanan panjang itu makin kokoh. Aswani Hafit yang sebelumnya memegang sertifikasi Kompetensi Wartawan tingkat Muda, resmi melangkah ke jenjang Madya—sebuah pengakuan profesional berstandar negara di bawah naungan Dewan Pers.(red)





























