KARO — Dua siswa asal Kabupaten Karo, Sumatera Utara, yang diduga mengalami keracunan usai menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), dirujuk ke Jakarta untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. Agnesia dan Febiola, dua siswa dengan kondisi medis paling serius, diberangkatkan dari Bandara Kualanamu, Deli Serdang, pada Sabtu (12/9/2026).
Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, menjelaskan rujukan ke Jakarta dilakukan atas arahan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang ingin memantau langsung proses penanganan kedua siswa tersebut. Menurut Bobby, tim dokter di Medan sejatinya telah memiliki kapasitas memadai untuk menangani kasus ini. Namun, permintaan Wakil Presiden diambil untuk memastikan monitoring yang lebih intensif, khususnya bagi siswa yang mengalami trauma berat selain masalah medis.
“Selain pemulihan secara medis, proses pemulihan mental dan psikis juga menjadi perhatian utama tim dokter,” kata Bobby di Bandara Kualanamu. Ia menegaskan, kesepakatan ini dicapai karena pencemasan terhadap efek trauma yang diderita kedua korban lebih berat dibandingkan teman-teman mereka yang juga terdampak.
Kasus keracunan massal makanan MBG di Kabupaten Karo sendiri terjadi pada Kamis (13/8/2026) dan berdampak pada 353 siswa dari lima sekolah, yang terdiri dari tiga SMA negeri dan dua SMP swasta. Hingga hampir sebulan setelah peristiwa ini, 24 siswa masih menjalani perawatan di rumah sakit dengan tingkat pemulihan yang bervariasi.
Salah satu siswa, Febiola, menjadi perhatian khusus lantaran harus menjalani perawatan selama lebih dari tiga minggu. Kondisinya sempat memburuk hingga muncul dugaan gangguan pada daya ingat. Sementara itu, gelar perkara kasus keracunan ini telah dinaikkan ke tahap penyidikan oleh pihak kepolisian, dengan evaluasi berkala dari Dinas Kesehatan Kabupaten Karo.
Kasus ini menyoroti pentingnya pengawasan kualitas makanan dalam program pemerintah serta perlunya evaluasi secara menyeluruh agar kejadian serupa tidak terulang dan dapat menjamin keamanan konsumsi bagi seluruh siswa. Pemerintah daerah bersama pihak terkait diharapkan dapat segera menemukan penyebab pasti kejadian ini, sekaligus memperkuat sistem kontrol dalam pelaksanaan program makanan bergizi bagi pelajar di seluruh wilayah. (*)





























