Tanah Karo, 11 September 2026 – Kasus keracunan massal akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) memantik kemarahan publik setelah penanganan terhadap para korban dinilai lamban dan tidak transparan. Sebanyak 15 anak di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, hingga saat ini masih harus menjalani perawatan intensif akibat keracunan yang dialami hampir satu bulan lalu. Kondisi miris dialami para korban, di mana beberapa anak dilaporkan mengalami gangguan kognitif, yakni kesulitan mengingat dan berbicara setelah mengonsumsi makanan dari program tersebut.
Geram dengan minimnya tanggung jawab pihak terkait, keluarga korban secara resmi menempuh jalur hukum dengan melaporkan Satuan Pelaksana Program Gizi (SPPG), Badan Gizi Nasional (BGN), serta pihak guru sekolah ke Polres Tanah Karo pada 31 Agustus 2026. Kuasa hukum korban menegaskan bahwa pelaporan ini dilakukan karena adanya dugaan kelalaian fatal pada saat proses penerimaan hingga distribusi makanan yang berujung pada penderitaan anak-anak. Hingga kini, belum ada pihak yang menyatakan bertanggung jawab secara konkret atas insiden tersebut, sehingga keluarga korban terpaksa menuntut keadilan melalui mekanisme hukum pidana dan gugatan perdata.
Persoalan ini bukan merupakan kejadian tunggal. Gelombang tuntutan proses hukum serupa juga muncul dari Pemerintah Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Pemerintah setempat kini tengah mempertimbangkan langkah hukum serius menyusul peristiwa keracunan yang menimpa 344 siswa di wilayah mereka usai menyantap menu MBG pada 1 September 2026. Insiden di Agam tersebut mencatatkan sejarah kelam karena menjadi kejadian kedua kalinya dalam kurun waktu yang berdekatan.
Publik kini mendesak pemerintah untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola program makan bergizi nasional. Ketegasan sanksi bagi pihak yang lalai menjadi tuntutan mutlak agar nyawa anak-anak tidak terus menjadi tumbal dari lemahnya pengawasan dan sistem distribusi makanan di lapangan. Tanpa adanya pengusutan tuntas yang menyentuh akar permasalahan, kekhawatiran akan kembali jatuhnya korban jiwa terus menghantui masyarakat di berbagai daerah. (*)





























