KARO | Polres Karo resmi meningkatkan status penanganan kasus dugaan keracunan makanan yang menimpa ratusan pelajar di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, ke tahap penyidikan. Langkah ini diambil setelah penyidik menemukan dugaan tindak pidana dalam peristiwa yang terjadi pada Kamis, 13 Agustus 2026. Kejadian tersebut langsung mengguncang masyarakat karena jumlah korban yang besar dan dampak kesehatan yang diderita para siswa.
Kasi Humas Polres Karo, AKP Pedoman Maha, menyatakan, peningkatan status kasus dari penyelidikan ke penyidikan dilakukan lantaran adanya bukti permulaan yang mengarah pada unsur pidana. Saat ini, penyidik memiliki kewenangan lebih luas untuk memperdalam perkara, termasuk memperkuat alat bukti serta memperjelas pihak-pihak yang diduga bertanggung jawab atas insiden ini.
Sejumlah saksi telah diperiksa oleh kepolisian. Pihak Polres Karo mengonfirmasi, saksi yang dimintai keterangan berasal dari berbagai unsur, mulai dari guru, siswa, hingga tenaga medis yang terlibat dalam penanganan korban. Proses penyidikan masih terus berjalan dan Polres Karo menyatakan akan menggelar perkara jika seluruh keterangan saksi telah lengkap.
Di sisi lain, kondisi korban tetap menjadi sorotan utama. Salah satu kasus yang mencuat adalah nasib Febi Yona br Purba, siswi SMK Bersama Berastagi, yang diduga menjadi salah satu korban keracunan massal. Febi kembali menjalani pemeriksaan lanjutan di RSUP H Adam Malik Medan pada Selasa, 8 September 2026. Ini merupakan kunjungan ketiga setelah sebelumnya menjalani perawatan intensif akibat kondisi yang memburuk sejak peristiwa keracunan.
Keterangan keluarga menyebutkan, kondisi Febi semakin memburuk setelah insiden terjadi. Awalnya, siswa tersebut hanya mengeluhkan pusing dan gatal-gatal sepulang sekolah, namun gejala berkembang menjadi lebih serius beberapa hari kemudian dengan kejang disertai penurunan fungsi neurologis. Setelah sempat dirawat di RSUD Kabanjahe dan diperbolehkan pulang, kondisi Febi semakin mengkhawatirkan. Ia kembali mengalami kejang hingga akhirnya kehilangan ingatan. Menurut kesaksian sang ibu, Febi bahkan tidak mengenal adik dan kakaknya yang setiap hari berada di rumah.
Kejadian ini menimbulkan kekhawatiran yang mendalam bukan hanya bagi keluarga korban, tetapi juga masyarakat luas. Banyak pihak berharap agar proses hukum bisa mengungkap secara transparan penyebab dan siapa yang harus bertanggung jawab. Penyidikan juga diharapkan dapat memberikan petunjuk atas faktor-faktor penyebab utama keracunan massal dan mendorong pemerintah serta pengelola program makan bergizi gratis untuk memperbaiki tata laksana dan pengawasan, agar tragedi serupa tidak terulang di masa mendatang.
Penyidik masih menanti hasil lengkap pemeriksaan laboratorium makanan dan menekankan pentingnya sinergi lintas sektor, baik institusi pendidikan, dinas kesehatan, maupun penegak hukum. Proses pemulihan korban juga menjadi tugas bersama demi menjamin keselamatan dan kesehatan pelajar di wilayah Karo. Hingga kini, kepolisian belum mengumumkan tersangka dalam kasus tersebut, namun memastikan penyidikan akan dilakukan secara menyeluruh dan transparan. (*)





























