KARO | Sebanyak 15 siswa di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, kembali menjalani perawatan di rumah sakit setelah sebelumnya dinyatakan pulih dari dugaan keracunan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terjadi hampir sebulan lalu. Para siswa ini dilaporkan mengalami keluhan serupa, terutama nyeri di bagian perut, dan dirawat secara intensif di sejumlah fasilitas kesehatan di Karo.
Kepala Dinas Kesehatan Sumatera Utara, Faisal Hasrimy, mengonfirmasi kabar terbaru tersebut dan menyampaikan bahwa seluruh siswa yang pernah terdampak keracunan MBG masih berada dalam pengawasan pemerintah. Menurut Faisal, pemerintah telah menyiapkan langkah-langkah pemantauan medis serta pendampingan berkelanjutan untuk menjamin proses pemulihan para korban. “Kami mendapatkan informasi, masih ada 15 siswa yang rawat inap dengan keluhan dominan nyeri perut,” ujarnya saat diwawancara di kantor Dinas Kesehatan Sumatera Utara, Kamis (10/9/2026).
Selain memantau perkembangan kondisi fisik para siswa, pemerintah juga menerapkan asesmen psikologis serta pendampingan untuk mengurangi dampak trauma pascakejadian. Arahan tersebut langsung diberikan Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution, yang meminta Dinas Perlindungan Anak untuk mengawal proses pemulihan psikologis korban. Pendampingan dilakukan guna membantu proses adaptasi dan pemulihan kondisi mental siswa setelah melewati pengalaman keracunan yang menghantui aktivitas belajar mereka.
Dinas Kesehatan Kabupaten Karo turut aktif membuka layanan call center bagi siswa dan keluarga yang masih mengalami gangguan kesehatan pascakejadian. Layanan ini menjadi salah satu upaya agar tidak ada korban yang terabaikan dan penanganan bisa dilakukan secara cepat apabila muncul keluhan lanjutan dari para siswa.
Keracunan MBG di Karo terjadi pada 13 Agustus 2026 setelah para pelajar mengonsumsi makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karo Berastagi Sempajaya. Makanan tersebut didistribusikan ke sejumlah sekolah, antara lain SMAN 1 Berastagi, SMA Swasta Bersama, dan SMK Swasta Bersama. Seusai makan, puluhan siswa mengalami gejala akut seperti pusing, mual, hingga nyeri perut, dan harus menjalani perawatan intensif. Investigasi yang dilakukan Badan Gizi Nasional dan Dinas Kesehatan Sumut menemukan pelanggaran serius pada aspek pengelolaan bahan makanan, salah satunya ikan yang disimpan di luar freezer dan tanpa pengawasan ketat.
Sebagai tindak lanjut temuan tersebut, SPPG Karo Berastagi Sempajaya kini telah ditutup sementara dan kepala satuan dikenai sanksi disiplin serta dicopot dari jabatannya. Sanksi tersebut dikeluarkan guna memastikan kejadian serupa tidak terulang serta sebagai evaluasi terhadap tata kelola layanan makanan bergizi untuk pelajar.
Meski insiden telah berlalu hampir satu bulan, proses pemantauan dan penanganan siswa yang terdampak tetap berlangsung intensif. Pemerintah daerah menegaskan komitmen mereka untuk memulihkan kesehatan seluruh siswa serta memperbaiki sistem pengawasan layanan MBG agar keamanan pangan di lingkungan sekolah kembali terjamin. (*)





























