KARO | Ketika langit Berastagi seolah menutup rapat sinarnya pada Agustus 2026, deret panjang ambulans dan isak tangis pecah di pelataran rumah-rumah sakit di Tanah Karo. Hampir sebulan sejak tragedi keracunan massal Makan Bergizi Gratis (MBG) menimpa ratusan pelajar, kisah getir masih dirasakan mendalam oleh keluarga Febi Yona Purba—salah satu korban yang hingga kini kesehatannya tak kunjung membaik. Bagi Elvinus Lusiana Sitanggang dan Icu Mangihut Purba, nama Febi Yona kini bukan lagi anak berprestasi yang dulu aktif di organisasi sekolah, melainkan remaja yang tiba-tiba sulit bicara, berulang kali kejang, dan seolah terasing di tengah keluarganya sendiri akibat hilangnya sebagian besar ingatan.
Bencana bermula Kamis, 13 Agustus. Seporsi nasi, ikan dencis bersaus, buah melon, dan sayur kol-wortel yang biasa tersaji di meja makan sekolah, berubah menjadi sumber petaka masal. Untuk Febi Yona, peristiwa bermula dari rasa pahit yang dipaksakan ditelan karena rasa lapar. Sekujur tubuhnya kemudian gatal, ia muntah-muntah, ambruk, dan hidup berubah. Di hari-hari berikutnya, denyar lampu ruang gawat darurat, monitor detak jantung, dan suapan obat-obatan menjadi pemandangan baru bagi keluarga yang berprofesi sederhana di Kabupaten Karo itu.
Langkah pengobatan tak pernah mudah. Dari Puskesmas Berastagi, RSUD Karo Kabanjahe, RS Efarina, RSU Haji Medan, hingga RSUP Adam Malik, keluarga harus berpindah-pindah rumah sakit demi secercah harap. Namun, setiap kepulangan Febi Yona tak pernah menghadirkan pulih. Di rumah, anak yang dulu dikenal cerdas justru tak lagi mengenali bibinya, adik, hingga keluarganya sendiri. Kadang ia menatap kosong, kadang melangkah ragu. Kejang datang tiba-tiba, lidahnya berat untuk berbicara, daya ingatnya kabur. “Dia sampai menangis sendiri. Tidak ingat siapa-siapa lagi. Kami juga tidak tahu, dokter belum memberi kepastian kenapa kondisinya seperti ini,” ucap Elvinus lirih, sambil menahan air mata.
Rentetan pemeriksaan telah dilakukan: mulai pemeriksaan EEG hingga penanganan berbagai spesialis di bidang saraf dan psikiatri. Tetapi keluarga, dengan kerasnya hidup sebagai buruh harian lepas dan penjual warung, semakin kehabisan daya. Setiap kali menjenguk, justru makin sulit menemukan jawaban. Berbagai kemungkinan disodorkan dokter: dugaan paparan bakteri, efek racun makanan, dugaan peradangan berat pada usus hingga fungsi saraf otak yang terganggu. Namun kalimat pasti dari ruang konsultasi medis tak kunjung hadir.
Hingga saat ini, data resmi pemerintah menyebut setidaknya 353 siswa menjadi korban dari dapur MBG yang dikelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karo Berastagi Sempajaya, milik Yayasan Manunggal Kartika Jaya—yang dikendalikan Kodim 0205/Tanah Karo. Satu dapur, lima sekolah, lebih dari 2.900 penerima manfaat, dan ratusan anak masuk rumah sakit pada hari-hari yang sama. Dampaknya meluas, menyisakan jejak kepiluan di ruang keluarga korban dan membekas dalam memori kolektif masyarakat Karo.
Laporan laboratorium UPTD Dinas Kesehatan Sumatera Utara mengonfirmasi temuan pada menu MBG yang disajikan hari itu: nasi positif Bacillus cereus, ikan dencis berbalut saus terpapar Staphylococcus aureus, dan buah melon membawa Escherichia coli (E. coli). Sampel muntahan siswa pun menjawab satu suara dengan hasil laboratorium—seluruhnya bakteri patogen yang dikenal mampu menghasilkan racun berat. Bacillus cereus dan Staphylococcus aureus, sebagaimana dijabarkan pakar medis, sekilas mudah menyerang makanan yang dipersiapkan massal, apalagi jika proses pendinginan, penyimpanan, dan distribusinya lalai. Enterotoksin yang dihasilkan bakteri bahkan tak luntur meski makanan dipanaskan ulang. Escherichia coli, dengan strain tertentu yang disebut Shiga toxin-producing E. coli (STEC), bahkan dapat memicu sindrom hemolitik uremik dan gagal ginjal akut pada anak-anak. Tidak mengherankan jika laporan kasus gangguan ginjal, penurunan kesadaran, hingga amnesia dan gangguan saraf otak muncul secara bersamaan pada gelombang korban.
Beban lain yang tak kalah berat adalah trauma sosial dan ekonomi. Febi Yona bukan satu-satunya yang harus menanggung derita panjang; ada Krismas Dayanti Sihite, Anna Karina, dan ratusan siswa lain yang pernah terbaring di ruang perawatan intensif—sebagian kini masih trauma, sebagian lain perlahan pulih, dan tak sedikit pula keluarga yang tidak tahu harus berbuat apa jika musibah kembali datang. Aktivitas ekonomi keluarga korban berhenti, biaya berobat membengkak, dan pengorbanan pribadi serta materi terpaksa ditempuh.
Di balik derita ini, publik kini menyaksikan reaksi pemerintah yang lebih banyak bersifat reaktif: mulai dari kunjungan pejabat ke rumah korban, pemberhentian kepala dapur MBG, hingga janji evaluasi yang tak kunjung menuntaskan akar persoalan keamanan pangan di sekolah. Kebijakan-kebijakan baru sekadar tambal sulam: penambahan label waktu pada makanan, sistem CCTV terpusat, hingga wacana penggunaan kecerdasan buatan untuk logbook di dapur MBG. Namun, sebagaimana dikritik banyak kalangan, langkah-langkah ini sering kali hanya menambah ilusi penanganan, tanpa menyentuh akar masalah pengawasan dan pendidikan higienitas yang sesungguhnya.
Kejadian keracunan massal MBG di Karo hanya puncak gunung es. Sampai akhir Agustus 2026, data pemantauan mencatat 43.838 korban dugaan keracunan MBG di seluruh negeri. Biaya sosial ekonomi melonjak, lebih dari Rp40 miliar dikeluarkan pribadi korban dan negara untuk biaya medis serta penanganan kesehatan dan pemulihan. Namun hingga kini, dari puluhan ribu korban, belum satu pun keluarga yang menempuh gugatan hukum ke negara, diduga karena alasan intimidasi, kurangnya pengetahuan hukum, atau sekadar kehilangan harapan mendapatkan keadilan.
Saat ini, suara masyarakat sipil kian lantang menuntut status kejadian luar biasa (KLB) keracunan pangan di sekolah dan menuntut negara untuk menjamin pemulihan bagi tiap korban: dari restitusi, kompensasi, rehabilitasi, hingga jaminan non-ulang. Para pakar dan pegiat kesehatan tak henti mengingatkan agar refleksi terhadap kebijakan “bergizi” ini tidak sekadar berwujud perubahan prosedur administrasi, tetapi menjadi momentum pembenahan total demi menjaga hak anak atas hidup, atas kesehatan, dan atas masa depan.
Musibah MBG Karo menjadi cermin mahal dari kegagalan sistemik perlindungan anak di negeri ini. Negara boleh saja bertekad memperbaiki angka gizi melalui program besar, namun setiap korban dan keluarga yang tersisihkan adalah peringatan bahwa gagalnya satu sistem pengawasan dapat menjadi tragedi sepanjang hayat. Febi Yona Purba—dan ribuan anak lain di seluruh Indonesia—menanti jawaban negara, bukan sebatas janji dan simpati, tetapi keberanian mengakui kesalahan, menjamin pemulihan, dan menata kebijakan agar tragedi tak lagi berulang dalam sejarah republik ini. (*)





























